Menelan terlihat sederhana, padahal prosesnya melibatkan otak, saraf, dan otot yang bekerja bersamaan. Pada orang lanjut usia, terutama setelah stroke, proses ini bisa terganggu. Gangguan menelan disebut disfagia. Menurut Kementerian Kesehatan, sekitar 51–73% pasien stroke mengalaminya.
Disfagia perlu diperhatikan karena bisa menyebabkan tersedak, kurang gizi, kurang cairan, dan infeksi paru akibat makanan atau minuman yang masuk ke saluran napas. Artikel ini membahas tanda-tandanya, cara aman menyuapi lansia di rumah, dan apa yang dilakukan bila ia tersedak.
Tanda lansia sulit menelan
Perhatikan bila orang tua sering mengalami hal berikut:
- batuk atau tersedak saat makan atau minum;
- suara menjadi serak atau terdengar "basah" (seperti berkumur) setelah menelan;
- makanan terasa tersangkut di tenggorokan atau dada;
- makanan tertahan lama di mulut, atau keluar lagi dari mulut atau hidung;
- air liur sering menetes;
- waktu makan menjadi jauh lebih lama dari biasanya;
- mata berair atau napas tersengal saat makan;
- berat badan turun tanpa sebab yang jelas;
- sering terkena infeksi paru.
Tersedak sesekali karena makan terlalu cepat masih wajar. Namun, bila tanda di atas sering muncul, periksakan ke dokter. Dokter dapat merujuk ke terapis wicara, yaitu tenaga kesehatan yang menilai kemampuan menelan dan menentukan tekstur makanan dan minuman yang aman. Sebagian orang bisa mengalami disfagia tanpa menyadarinya, jadi keluarga yang menemani makan berperan penting untuk mengenali tandanya.

Cara aman menyuapi di rumah
- Pastikan orang tua sadar penuh dan tidak terlalu lelah. Bila ia mengantuk berat, tunda dulu makannya.
- Duduk tegak, sebaiknya di kursi dengan punggung bersandar. Bila harus di tempat tidur, tinggikan bagian kepala tempat tidur setegak mungkin. Jangan menyuapi orang tua dalam posisi berbaring, dan hindari kepala yang menengadah saat menelan.
- Suapan kecil, kira-kira seukuran sendok teh, dan minum seteguk demi seteguk.
- Pelan-pelan. Tunggu sampai suapan sebelumnya benar-benar ditelan sebelum memberikan suapan berikutnya. Kadang ia perlu menelan lebih dari sekali untuk satu suapan.
- Kurangi gangguan. Matikan televisi, dan ajak berbincang sebelum atau sesudah makan, bukan saat ia sedang mengunyah atau menelan.
- Tetap duduk tegak sekitar 30 menit setelah makan, supaya makanan tidak naik kembali.
- Bersihkan mulutnya setelah makan. Periksa apakah masih ada sisa makanan di sela gigi atau pipi, lalu bantu menyikat gigi.
Duduklah sejajar dengan matanya saat menyuapi, bukan berdiri di atasnya. Sapa dan beri tahu sebelum setiap suapan, sabar bila makannya lama, dan jangan memarahi bila ia batuk atau makanannya tumpah. Biarkan orang tua makan sendiri sebisa mungkin, meski hanya sebagian, supaya ia tetap merasa dihargai.
Pilih makanan yang lebih mudah ditelan
Tekstur makanan yang aman bisa berbeda untuk tiap orang, jadi ikuti arahan dokter atau terapis wicara bila sudah ada. Secara umum:
- Lebih mudah: makanan lunak dan rata teksturnya, seperti bubur, nasi tim yang lembek, kentang tumbuk, telur orak-arik yang lembut, tahu sutra, puding, atau buah yang dihaluskan.
- Hindari: makanan kering dan mudah remah (kerupuk, kacang, biskuit kering), makanan keras atau alot (daging yang alot, sayur yang belum empuk), makanan berserat atau berkulit (jagung, sayur berdaun panjang), serta makanan yang mencampur kuah encer dengan potongan padat, seperti sop berisi potongan sayur. Campuran seperti ini menuntut mulut mengatur cairan dan makanan padat sekaligus, sehingga lebih mudah tersedak.
- Sebagian orang lebih mudah meminum minuman yang lebih kental, misalnya jus yang dihaluskan. Tanyakan kepada dokter atau terapis wicara apakah minumannya perlu dikentalkan.
Soal obat: jangan menggerus atau membuka kapsul obat tanpa bertanya, karena tidak semua obat boleh dihancurkan. Tanyakan kepada dokter atau apoteker apakah obatnya boleh diminum bersama sedikit makanan lunak, atau tersedia dalam bentuk sirup.
Bila orang tua belum mampu menelan dengan aman, dokter mungkin menganjurkan selang makan (NGT) untuk sementara. Baca juga Cara Memberi Makan Lewat Selang NGT di Rumah dengan Aman.
Bila orang tua tersedak
- Masih bisa batuk, bicara, atau bernapas: dorong ia untuk terus batuk supaya makanan keluar. Tetap temani dan tenangkan.
- Tidak bisa bicara, batuk, atau bernapas: minta orang lain segera menghubungi 119. Sambil menunggu, lakukan pertolongan tersedak sesuai panduan Kementerian Kesehatan: condongkan tubuhnya ke depan, beri 5 tepukan keras di punggung atas di antara tulang belikat dengan pangkal telapak tangan. Bila belum keluar, lanjutkan dengan dorongan perut (manuver Heimlich).
- Bila ia tidak sadarkan diri, baringkan dan segera minta bantuan petugas kesehatan.
Pertolongan tersedak paling baik dipelajari langsung lewat pelatihan bantuan hidup dasar.
Kapan perlu segera ke dokter
Segera periksakan bila orang tua demam, batuk berdahak, atau sesak napas setelah sering tersedak, karena bisa jadi tanda infeksi paru. Periksakan juga bila berat badannya terus turun, ia tampak kurang minum, atau kesulitan menelannya muncul tiba-tiba. Kesulitan menelan yang muncul mendadak, apalagi disertai bicara pelo atau wajah mencong, bisa menjadi tanda stroke dan perlu segera dibawa ke IGD.
Butuh bantuan menjaga orang tua di rumah?
Perawat homestay Orchid Home Care bisa membantu menjaga lansia di rumah sesuai shift yang Anda pilih, termasuk membantu makan dengan posisi dan cara yang aman, minum obat sesuai jadwal, serta memperhatikan perubahan kondisinya sehari-hari. Baca juga panduan Merawat Pasien Pasca Stroke di Rumah.
Ceritakan kondisi orang tua Anda lewat form konsultasi, nanti admin kami membantu menjelaskan pilihan layanannya. Merawat dengan sepenuh hati.
Sumber
- Kementerian Kesehatan RI (keslan.kemkes.go.id): Mengenal Disfagia
- Kementerian Kesehatan RI (keslan.kemkes.go.id): Senam Stroke dan Edukasi Pemberian Makan pada Pasien Stroke yang Mengalami Gangguan Menelan (RS Pusat Otak Nasional)
- Kementerian Kesehatan RI (keslan.kemkes.go.id): Tersedak? Simak Cara Mengatasinya
- East Sussex Healthcare NHS Trust (Inggris): Supporting you to swallow
